Wednesday, September 2, 2009

Zikir = Surga


Prof. Drs. K.H. Djamaan Nur



Jaminan Surga, Bila Berzikir & Beramal Saleh
Prof. Drs. K.H. Djamaan Nur
(Pembina Tasawuf & Tarekat Surau Mambaul Amin - Bengkulu)

www.baitulamin.org
www.mambaul-amin.blogspot.com

Manusia, terdiri dari jasmani dan rohani. Jasmani, berasal dari tanah liat yang kering dan berasal dari lumpur hitam yang dibentuk (bentuk jasmani manusia) al-Hijir 15:28. Rohani, berasal dari Allah SWT yang ditiupkan kepada diri jasmani Adam setelah diri jasmaninya sempurna sebagai jasmani manusia (al Hijir 15:29). Sedangkan pada keturunan Adam, dihembuskan roh yang berasal dari allah itu kepada janin saat berusia 120 hari ketika masih berada dalam rahim ibunya (as-Sajadah 32:9).

Diri rohani yang berasal dari allah, sudah disiapkan untuk setiap diri jasmani manusia. Karenanya, usia roh sejak Nabi Adam hingga akhir manusia nanti adalah sama. Cuma, usia rohani itu dipartnerkan dengan jasmani berbeda waktunya, antara satu orang dengan lainnya. Atau dengan kata lain, usia roh nenek moyang kita dengan usia roh kita dan dengan usia anak cucu kita adalah sama. Yang akan mempertanggungjawabkan amal baik dan amal buruk kita, adalah diri rohani ini. Diri rohani inilah yang akan masuk surga atau masuk neraka. Sesuai dengan amal perbuatannya di dunia. Ketika manusia wafat maka diri rohaninya masuk surga dan atau masuk neraka. Sedangkan diri jasmaninya adalah diri jasmani yang baru. Bukan diri jasmani yang berasal dari tanah.

Allah menjadikan manusia supaya beribadah kepada-Nya oleh karena ada padanya roh. Kemudian allah menjadikan hidup dan mati untuk mengetahui mana diri rohani yang lebih banyak dan lebih bagus amalannya (al-Muluk 2). Itu adalah hakikat hidup manusia.

Seseorang harus mempunyai pola hidup, pola berfikir dan pola sikap supaya tujuan hidupnya tercapai. Dalam QS al-Qasas 77 disebutkan, peruntukkan apa saja yang kamu peroleh berupa rahmat dan karunia allah untuk akhiratmu. Tapi kamu harus mempersiapkan juga untuk hidupmu di dunia. Dan kamu harus berbuat baik serta mensyukuri apa yang kau peroleh itu sebagaimana allah berbuat baik kepadamu.

Adapun tujuan hidup manusia adalah agar dekat dengan Allah SWT dan mendapatkan ridho-Nya (al-Fajar 27-28). Hadis meriwayatkan : berbuatlah kamu untuk urusan duniamu seolah-olah kamu hidup selamanya. Itu berarti, urusan dunia ini harus dilaksanakan secara bertahap. Dan beramal lah untuk akhiratmu, seolah-olah kamu akan mati besok pagi. Artinya, kita harus bersegera untuk amar makruf nahi munkar. Tidak boleh ditunda-tunda.

Pola hidup, pola berfikir dan pola sikap rasulullah yang menjadi panutan kita, jelas seperti yang tertera dalam Q.S al-An’am 162. Artinya, “Katakanlah: sesungguhnya salatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk allah tuhan semesta alam”.

Untuk bertakarub kepada allah, kita harus berzikir dalam segala situasi dan kondisi. Baik ketika sedang berdiri, duduk dan berbaring (Ali Imran 191). Untuk berzikir, seseorang harus mengetahui hakikat dirinya seperti yang telah dijelaskan di atas. Berzikir itu, dalam artian umum yakni seseorang berbuat apa saja yang bentuknya ibadah umum maupun ibadah khusus harus lillahita’ala (karena allah SWT). Berzikir dalam arti khusus seperti, mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.

Dengan berzikir, bisa menenangkan hati. Sebagaimana firman Allah SWT : “Ketahuilah, dengan berzikir, seseorang akan menjadi tenang hatinya (QS ar-Ra’du 31:28). Hadis yang mengatakan barang siapa di akhir kalamnya mengucapkan “Laa ilaahaillallah” masuk surga.

Dengan berzikir, seseorang membersihkan diri rohaninya. Sebagaimana sabda rasulullah yang artinya : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang kotor ada cara membersihkannya (kotor lahir). Dan hati yang kotor (kotor batin) membersihkannya adalah dengan cara zikrullah”.

Seseorang yang sakaratul maut, ditalkinkan/dituntun mengucapkan lafaz “Laa ilaahaillallah”. Dia hanya bisa mengikuti panduan kalimat tersebut manakala hatinya bersih dan tenang. Adapun yang menjawab sesungguhnya adalah hatinya yang bersih sebagai buah dari amalnya itu sendiri. Karena itu, hendaklah kita membiasakan membersihkan hati dengan cara berzikir hingga pada waktu sakarat nanti, otomatis kita bisa melaksanakan tuntunan kalimat tauhid itu. Demikian pulalah halnya orang mentalkinkan jenazah di kubur yang dituntun untuk menjawab pertanyaan malaikat. Seperti ‘man rabbuka (siapa tuhanmu)’ maka dijawab allahurabbi (allah tuhanku). man nabiyuka (siapa nabimu) maka dijawab Muhammad rasulullah, nabiyyi (nabiku)’ dan seterusnya.

Perlu kami tegaskan bahwa orang yang meninggal, yang mati adalah diri jasmaninya. Sedangkan diri rohaninya tidak mati tapi tetap hidup. Seperti dalam firman allah QS al-Baqarah 2:154 dan QS ali –Imran 3:169. Pada waktu seseorang menerima nikmat, rahmat atau azab di alam barzakh hingga alam akhirat, diri rohaninya dipartnerkan dengan diri jasmaninya yang baru. Dalam al-quran disebutkan, yang menjadi bahan baku api neraka itu adalah manusia dan batu. Ketika diri jasmaninya hangus oleh api neraka maka diganti dengan diri jasmani yang baru dan seterusnya. Agar orang itu dapat merasakan azab dari Allah SWT, QS an-Nisa 4:56.

Adapun kondisi orang yang berzikir dan beramal saleh, dia masuk surga. “Sesungguhnya, penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan mereka. Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan (bersila) di atas dipan-dipan. Disurga itu, mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. Kepada mereka dikatakan, ‘salam’ sebagai ucapan selamat dari tuhan yang maha penyayang” (QS Yasin 36:55-58).(**)



edisi terbit: Harian Rakyat Bengkulu, Senin, 31 Agustus 2009

Sunday, August 30, 2009

Tasawuf dan Puasa

Tasawuf dan Puasa Melahirkan Manusia Bertakwa
Prof. Drs. K.H. Djamaan Nur
Pembina Tasawuf & Tarekat Surau Mambaul Amin - Provinsi Bengkulu
www.baitulamin.org

Tasawuf adalah ilmu bagaimana kita membersihkan rohani dari segala sesuatu yang mazmumah/tercela atau sifat-sifat yang dilarang oleh Allah SWT dan menumbuhkan sifat-sifat mahmudah/terpuji. Sehingga kita dapat bertakarub (mendekatkan diri) dan beribadah kepada allah dengan baik dan sempurna. Dengan tasawuf, kita akan membasmi/menghilangkan sifat-sifat tercela dan menumbuhkan sifat-sifat terpuji yang disuruh oleh allah SWT.

Bila sifat-sifat tercela tidak ada pada rohani kita maka timbulah sifat terpuji. Sehingga orang mau melaksanakan segala yang diperintahkan oleh allah dan dengan sendirinya meninggalkan apa yang dilarang allah.

Tasawuf adalah ilmu mendekatkan dan membersihkan diri rohani manusia. Adapun cara serta sistemnya dinamakan tarekat, sedangkan isi dari suatu peramalan tasawuf/tarekat adalah berzikir kepada allah. Dalam artian khusus maupun dalam artian umum. Singkatnya, tasawuf adalah ilmunya, sedangkan tarekat adalah bagaimana melaksanakan ilmu tersebut yang isinya adalah zikir.

Setiap amal ibadah umum maupun ibadah mahdah (ibadah yang ada ketentuan syarat dan rukunnya) dan sah/batalnya. Ada padanya syariat dan hakikat. Umpamanya, syariat salat. Ada padanya syariat yakni syarat salat dan rukun salat yang dilaksanakan secara zahir atau kasat mata sehingga bisa dilihat perbuatan manusianya. Dan ada padanya hakikat, yakni inti dan tujuan ibadah salat itu sendiri. Dimana seseorang berdialog, beraudiensi, munajat (berdoa) kepada allah SWT. Jadi, orang salat itu secara hakikatnya adalah munajat sekaligus beraudiensi menghadap allah SWT. Orang yang beribadah demikian, dikatakan salatnya khusuk. Sedangkan orang yang tidak merasakan adanya munajat dan audiensi kepada allah, dikatakan salatnya sahun/lalai/tidak konsentrasi.

Dalam hadis, rasulullah bersabda: “Assalatu mikrajul mukminin” artinya, salat itu adalah mikrajnya (menghadap/beraudiensi) orang mukmin. Itulah tanda salat orang yang khusuk. Dalam al-quran (QS:al-ankabut:45) allah berfirman - yang artinya, “sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan fakhsyak dan munkar”. Kalau ada orang yang salat, tapi masih juga berbuat fakhsyak dan munkar, berarti salatnya sahun/lalai. Sedangkan orang yang salatnya khusuk, tentunya tidak akan berbuat fakhsyai wal munkar lagi. Orang yang mempunyai sifat-sifat mahmudah akan membuahkan takwa. Demikian juga dalam berpuasa. Ada syariat dan hakikatnya yang akan membuahkan takwa.

Rasulullah bersabda: “Kam min shaimin, laisalahu minsiamihi illal ju’a wal ‘athasy” artinya, banyak sekali orang berpuasa tidak ada yang didapatinya kecuali haus dan lapar. Puasa orang yang demikian, sudah pasti puasa yang hanya syariat atau lahirnya saja sedangkan batinnya tidak ada. Padahal, batin/ruh puasa bertujuan menekan hawa nafsu amarah. Yakni nafsu menurut kehendak hawa nafsu yang dikendalikan iblis & setan. Seseorang punya nafsu untuk memiliki harta, berumah tangga dan mendapatkan tahta/kedudukan. Nafsul amarah adalah nafsu yang semata-mata sifatnya duniawi. Karenanya, dia tidak mempedulikan bagaimana memperoleh/mendapatkan nafsu-nafsu itu baik dengan cara halal ataupun haram. Nafsul amarah adalah nafsu tamak, karena itu mungkin dia mendapatkannya dengan cara yang haram atau melawan hukum. Seperti nafsu sex = berzinah, nafsu harta = mencuri, merampok, korupsi hingga membunuh. Nafsu tahta = mungkin dengan cara yang tidak jujur, penggelembungan suara (Caleg/Cakada/Pilpres). Yang demikian ini, pasti dimurkai allah. Sehingga kalau orang berpuasa, tidak ada padanya hakikat yang demikian maka puasanya menjadi puasa yang tidak membuahkan takwa.

Dalam kajian tasawuf, ada tiga tingkat puasa. Pertama, puasa orang awam atau umum. Adalah puasa menahan nafsu sex, haus dan lapar, mungkin juga ada hakikatnya tapi sangat sedikit. Tingkat puasa kedua adalah puasa khusus yakni puasa dari nafsu sex, nafsu makan dan minum tapi juga mempuasakan dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa. Contoh, tidak bergunjing/membicarakan aib orang lain, menjadi provokator atau menyuruh orang berbuat yang terlarang termasuk menjadi mucikari. Puasa ketiga adalah yang lebih tinggi nilainya. Istilahnya khawasil khawas (khusus, lebih khusus lagi) yakni puasanya para nabi, rasul dan para wali allah. Yakni puasa yang tidak tergoda oleh keindahan dan kemegahan dunia yang ada di depan mata dan sekelilingnya.

Hadis Bukhari – Muslim, agama islam meliputi tiga pilar yakni islam, iman dan ihsan. Pilar pertama adalah islam, isinya mengenai lima rukun islam dengan disiplin ilmu fikih atau syariat. Puasa, masuk dalam rukun ke-empat. Pilar kedua adalah iman, dengan rukun iman yang enam. Disiplin ilmunya adalah ilmu tauhid/usuludin/tentang ketuhanan. Pilar ketiga adalah ihsan yang membahas tentang hakikat dari gabungan kedua pilar sebelumnya (islam dan iman) dimana disiplin ilmunya adalah tasawuf.

Ketiga pilar agama islam ini harus dilaksanakan secara menyeluruh, utuh dan tidak setengah-setengah. Allah berfirman: “Ya ayyuhallazi na aamanu udkhulu fissilmi kaaffah wala tattabi’u khutuwatissyaitan innahu lakum aduwwum mubin” (QS: al-bakarah:208) artinya, wahai orang-orang yang beriman, laksanakan olehmu seluruh pola ajaran dan amal islam itu sacara kaffah (menyeluruh). Dan, janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

Iblis merupakan nama makhluk halus. Sedangkan setan adalah perbuatan keji dari iblis itu. Dalam diri setiap manusia, ada iblis yang membisikkan perbuatan keji. Sehingga kalau manusia itu melaksanakan bisikan iblis tadi maka manusia itu juga bernama setan. Misalnya pelaku perkosaan, pembunuh dan pelaku perampokan. Ajaran tasawuf dengan metode zikir, pasti mampu mengusir dan menghancurkan sarang-sarang iblis dan setan yang ada pada diri manusia. Dengan demikian, jelaslah bahwa tasawuf ada di dalam koridor islam.(**)

Senin -- 24 Agustus 2009 (1430 H)